That’s What Friends Are For..

Posted by | Posted in Tentang Dia | Posted on 19-02-2010

Pernahkah anda merasa kehilangan sosok seorang sahabat meskipun ia berada tidak jauh dari pandangan anda dan ikut merasa kesal padanya ketika orang di sekelilingnya sedang kesal karena perubahan yang terjadi di dalam dirinya? No jokes and no laughing anymore. Saya merasakan hal itu. Ikut terbawa suasana di kala orang lain membicarakannya —meskipun tidak separah yang anda bayangkan. Bahkan, sahabat yang lain sampai mengomentarinya lewat salah satu status update di Facebook. Mungkin dia terlalu penting hingga dunia sekelilingnya merespon kilat perubahan yang ada pada dirinya.
Dia lebih emosional. Kata-kata yang keluar dari mulutnya cenderung reaktif dan mengecilkan harapan lawan bicaranya. Curahan hati dari para sahabat pun melewati daun telinga saya dan terserap sempurna ke dalam otak saya. Satu orang, dua orang, tiga orang, bahkan curhatan paralel. Saya yakin ada yang salah. Dan mengapa mencurahkan perasaannya pada saya? Perfectly weird.
Sampai suatu ketika muncul tulisan di ponsel saya “message from *B*” dengan fotonya yang sedang menggunakan laptop. Saya ingat foto itu saya ambil saat kami sedang mengerjakan tugas di sekitar gedung kuliah terbesar di Fakultas Pertanian. Dalam pesannya ia ingin meminjam salah satu perangkat elektronik untuk dibawa ke sebuah event mahasiswa terbesar di bulan ini (Januari 2010) dan ingin membicarakan sesuatu. “Ohh GOD!! Why must now…” sambut saya saat membaca sms tersebut —sambil mendengarkan curahan hati dari sahabat lain. Sejujurnya neuron di kepala ini masih tegang dengan berbagai macam hal yang masih dalam perencanaan. Hati ini masih berbalut emosi karena melihat sang sahabat yang emosional. Males.
Setelah berhasil menghimpun semangat dan senyum akhirnya saya kembali ke kost-an dan menunggu kedatangannya. Menurut kesepakatan awal pukul 20.30 WIB.
20.30 WIB saya turun dari kamar dan menunggunya sambil berbincang di kamar seorang teman.
20.45 WIB saya menambah pengetahuan tentang ternak ayam yang bisa mati karena stres melalui cerita teman saya. Ia belum datang.
21.00 WIB saya menambah pengetahuan tentang ternak sapi Frisian Belanda yang disilangkan dengan sapi lokal melalui injeksi sperma dari cerita teman saya. Ia belum datang.
21.15 WIB saya menambah pengetahuan tentang ternak babi yang ternyata memiliki bentuk kromosom yang mirip manusia dan hidupnya yang menjijikan hingga cara mengolahnya melalui cerita teman saya. Ia belum datang.
21.30 WIB teman saya kedatangan tamu. Mereka membicarakan bakso sapi. Saya mulai mengantuk dan terkapar di kasur karena bosan menunggu. Ada pesan darinya, ia harus datang ke tempat lain terlebih dahulu.
21.45 WIB Ia bilang mau berangkat. Saya keluar dari kamar teman dan bertemu dengan Pemimpin Redaksi media yang saya ampu.
21.50 WIB Ia tiba. Pemimpin Redaksi pulang.
Saya memulai dengan mendengarkan dan menemukan suatu titik tengah yang menjadi benang merah antara apa yang dikeluhkan orang-orang tentang dirinya. Saya merasa bersalah karena sempat terbawa suasana hati sahabat yang lain. Dan, akhirnya dengan secuil ilmu penyemangat yang pernah saya dapatkan kami mencari solusi bersama-sama. Bukan untuk orang lain. Tapi paling tidak untuk tidak merusak produktivitas semua pihak. Saya senang dengan keterbukaannya, paling tidak itu yang saya butuhkan untuk bisa menjadi wadah yang melegakan perasaan seorang sahabat. Meskipun saya tidak tahu apa saja yang masih ada di otaknya —yang pasti hal itu merubah keceriaannya. Dan solusi dari saya, “How about refreshing??”. Saya tidak menyampaikannya kala itu, karena ide itu baru saja terpikir beberapa jam yang lalu sebelum menulis rangkaian kalimat ini. Mungkin terlalu jenuh. Anda boleh percaya atau tidak, refreshing dapat meningkatkan produktivitas —mohon tidak dikaitkan dengan hedonis. Satu menit, dua menit, tiga puluh, sembilan puluh menit. 22.30 WIB kami mengakhiri pembicaraan.
Setiap 15 menit saya belajar bersabar. Dalam 80 menit saya bisa mendapatkan pengetahuan tentang ternak. Dalam 90 menit saya belajar memahami orang lain. Dalam 170 menit saya belajar banyak hal, termasuk menjadi sahabat yang baik. Kita hanya butuh kesabaran dan kepedulian untuk benar-benar memahami berbagai hal dengan hati.

Naik Turun Gunung (1)

Posted by | Posted in Story Vs Journey | Posted on 28-11-2009

Pagi itu, 23 Oktober 2009 Saya dan beberapa teman satu kelas minor akan melaksanakan praktikum lapang susulan untuk mata kuliah Interpretasi Alam di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi, Jawa Barat. Dengan mengecer angkutan umum dan colt ‘SETAN’ -disebut setan karena ugal-ugalan, saya dan teman-teman berangkat menuju Sukabumi. Perjalanan memakan waktu lima jam hingga kami sampai di penginapan HPGW. Sebelum langsung terjun ke lapang kami istirahat dan makan siang.
Sekitar pukul 14.00 WIB kami memulai perjalanan kami ke tengah hutan. Kami berjumlah 23 orang dan terbagi dalam dua kelompok. Sebagian pergi ke gua dan sebagian lagi ke pemukiman terdekat dari HPGW. Kebetulan saya mendapatkan tugas berkunjung dan mewawancarai penduduk di pemukiman terdekat. Dengan penuh percaya diri saya dan sahabat saya, erin, mendatangi satu per satu rumah warga. Barulah kediaman Pak RT kami singgahi saya sudah speechless karena ternyata sangat sedikit penduduk yang mengerti atau mampu berbahasa Indonesia. Terpaksa, saya harus terbata-bata menggunakan bahasa sunda saya yang pas-pasan. Dari satu rumah ke rumah bahasa sunda saya pun mulai memanas dan semakin lancar. Hingga tiba di rumah salah satu sesepuh di desa tersebut, jangankan berbicara mengerti yang dibicarakan saja tidak. ”Damn!! Sunda kolot!!!” emosi saya dalam hati. Bukan Hanya saya yang kewalahan, erin juga.
Berada lebih dari sejam di tengah warga membuat saya dan teman-teman mulai merasa nyaman dan dapat menikmati suasana pedesaan yang masih terbilang asri itu. Berbagai macam masalah lingkungan, sejarah kawasan dan obrolan-obrolan ringan menjadi aktivitas kami sambil menyantap bakso tusuk yang dijual seorang pedagang keliling.
Layaknya orang zaman sekarang yang selalu ‘narsis’ di mana saja, kami pun berfoto ria sepanjang perjalanan. Bahkan kami pun tak enggan berfoto dengan para bocah kampung yang berada di sana. Sehabis menunaikan shalat Ahsar kami kembali ke penginapan. Karena hujan kami jadi kemalaman di tengah hutan. Bersyukur saya masih sempat menyelipkan emergency lamp di tas saya. Suara babi hutan terdengar sepanjang perjalanan kami di tengah hutan.
Tak lama menginjakkan kaki di penginapan, listrik padam. Padahal kami harus menyicil laporan sementara untuk besok. Dengan baterai laptop yang ala kadarnya kami mengerjakan laporan tersebut. Penginapan begitu gelap gulita. Andai saja saya dan teman-teman tidak membawa senter dan emergency lamp sudah dipastikan suasana semakin horor. Kami memutuskan menyudahi pengerjaan laporan saat baterai laptop habis dan segera tidur -segera setelah selesai bergosip.
Kami bangun pagi untuk menunaikan shalat subuh dan segera kembali ke hutan untuk pengamatan satwa. Karena suplai air tidak memadai tidak ada satu orang pun yang mandi selama di HPGW -selain saya (hehehe). Binokuler, kompas, altimeter dan berbagai alat lainnya sudah siap di dalam ransel. Kami kembali pada pos-pos masing-masing dan kebetulan saya berada di bagian COPAL 40 yang berada jauh di atas sana.
butuh banyak energi untuk ke sana.
Setelah selesai mencari data, kami bersantai di warung kopi. Ada pula yang memilih bersih-bersih badan dan packing untuk pulang. Setelah sarapan pagi dan sebelum mengerjakan laporan kembali secara menual -listrik belum menyala, kami bersantai di kamar. Sharing dan bercanda hingga kami tak tahan menahan tawa. Hingga akhirnya kami dibubarkan oleh sebuah gempa bumi 5,2 SR yang terasa cukup kencang pada pukul 10.05WIB. Kami berhamburan keluar tanpa jilbab. Untung saja teman laki-laki kami tidak mempedulikan gempa karena sedang asik main remi. Ajaib memang. Tidak ada sinyal dan tidak ada baterai. Panik. Kami seakan terisolasi dalam bukit yang dikelola IPB ini.
Kami bergegas menyelesaikan laporan dan packing. Semuanya sangat ingin kembali ke kampus Dramaga. Namun, cuaca tidak cukup bersahabat. Hujan masih mengguyur HPGW, belum lagi terdapat data yang masih harus saya cari di atas sana. Saya, Erin, Andrian dan Adam terpaksa pergi terlebih dahulu menggunakan dua buah sepeda motor. Kontur tanah yang begitu terjal dan licin menjadi hambatan bagi kami. Saya sempat dua kali jatuh dari motor. Untung saja tidak ada cacat fisik sedikit pun yang terjadi pada saya.
Teman lainnya menyusul dengan diantar mobil bak pengelola HPGW. Sampai di gerbang luar saya bergabung bersama mereka. Kami saling bertatapan dan tertawa manakala teringat 17 orang mahasiswi ‘NGEBAK’ di tengah hujan deras dan ditonton pengendara mobil lainnya. Sayang sekali momen sempurna itu tidak dapat didokumentasikan dalam bentuk foto.
Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan colt ‘SETAN’ (lagi). tapi kali ini pengemudinya lebih dahsyat. Sangat di luar dugaan, macet dimulai dari daerah Cicurug, Sukabumi hingga Baranangsiang, Kota Bogor. Alhasil kami baru tiba di kosan masing-masing sekitar pukul 22.00 WIB.

Goodbye Sanguinity, Welcome Back Dynamic Thinker!

Posted by | Posted in Tentang Aku | Posted on 14-09-2009


Cukup sudah tawa dan canda yang telah menyita terlalu banyak energi dan produktivitas selama ini. Saya merasa terlalu mengendurkan tali pedati selama saya tiba di kampus hijau ini. Kini saya sadar wilayah ini bukan perhentian setelah memeras peluh dan menghisap karbon monoksida selama tiga tahun di pinggiran Darmawangsa. Akan saya sudahi anggapan betapa mudahnya perjalanan hingga saya tiba di sini.
Dulu saya melaju dengan percepatan yang luar biasa. Untung-rugi namanya. Perjalanan selama tiga tahun yang tidak terbuang sia-sia karena saya berkaca dan sesekali melihat ribuan langkah yang telah saya tempuh hingga berpijak di titik itu. Tidak hanya itu, dulu ‘saya anti-keluh!’ Jika dihitung berapa banyak keluh-kesah yang terlontar dari mulut ini selama dua tahun terakhir, mungkin jumlahnya bisa menutupi hijaunya hutan di kampus ini. Cukup. Tidak ada waktu lagi untuk itu. Saatnya saya kencangkan tali pedati dan melontarkan pecut agar bisa melaju kencang lagi.
Apa salahnya jika kita lelah dan kembali pada apa yang tidak terlihat pada permukaan? Toh, pada akhirnya akan terlihat juga. Tanpa kita sadari mungkin itulah cara terbaik kita untuk menjalani hidup. Hal itu pula yang saya kutip dari film syarat makna “Forrest Gump”, Forrest yang telah berlari selama tiga tahun tanpa arah pun akhirnya kembali ke rumah dengan alasan yang cukup jelas dan rasional “I’m tired…” ujarnya. Tepat, Itu yang saya rasakan.
Canda dan tawa banyak memberikan teman dan hati kepada saya. Tapi rasionalitas ini semakin berkelit dengan realitas. Teman, cinta, jabatan, harta dan popularitas bukanlah final destination, ada yang lebih penting dari itu. Utilitas.
Saya tidak peduli dengan orang yang beranggapan bahwa saya adalah orang yang idealis atau mungkin liberalis —saya lebih suka disebut sang idealis yang liberalis. Saya hanya peduli dengan utilitas. Ada saat di mana kita harus menjalankan sesuatu ‘on the track with all of the rule’ dalam kehidupan. Misalnya, ketika anda melintas di sebuah jalan raya dengan mematuhi segala aturan dan rambunya, maka kemungkinan anda selamat dan tidak ditilang polisi dalam perjalanan signifikan lebih tinggi. Namun, ada saatnya anda berpikir kritis dan menjalankan sesuatu ‘out of the track without accepting the rule’. Misalnya anda tidak mematuhi peraturan sekolah untuk memakai sepatu berwarna hitam dengan alasan perlu biaya tambahan untuk memperolehnya dan yang paling penting ‘sepatu hitam tidak ada hubungannya dengan mindset dan isi otak yang ada di dalam kepala saya’. Ringkasnya, sepatu di kaki, otak di kepala. Tell me how to synchronize it?
Kembali ke utilitas. Utilitas yang saya maksud bukanlah keadaan yang sempurna untuk saya nikmati. Tapi di mana saya bisa membangun idealisme saya untuk menikmati, puas dan memanfaatkan apa yang sudah ada. Kita tidak mungkin dilahirkan pada keadaan 100% sempurna. Saya tidak dilahirkan dari rahim seorang jutawan. Saya bukan anak seorang kiayi. Saya bukan mahasiswi kedokteran atau teknik yang diidam-idamkan ribuan manusia. Saya tidak belajar di perguruan tinggi nomor satu di Indonesia. Saya belum bisa menjadi seorang anak yang bisa membanggakan negara dan kedua orang tua saya. Tapi, saat ini saya telah mencapai utilitas dan dapat mengutarakannya dalam bentuk pernyataan. Saya punya orang tua dan memiliki status sosial jelas pada akta kelahiran. Saya dilahirkan dalam keadaan Islam. Saya mahasiswi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Saya kuliah di IPB. Saya masih bisa mengupayakan apa saja yang bisa saya perbuat untuk membanggakan orang tua dan negeri ini. Cukup bukan?
Utilitas ini yang menjadi modal saya untuk bertindak. Sayangnya, baru saya ingat kembali. Menyedihkan jika saya mengulas kembali ketidakproduktifan yang merupakan buah ‘Sang Sanguinis’ dan melupakan energi dari utilitas yang telah saya sebutkan di atas. Semua memang ada plus dan minusnya, tapi saya merasa lebih nyaman pada posisi saat ini. Posisi yang banyak orang bilang ‘koleris’ atau mepet dengan apa yang disebut ‘Dynamic Thinker’. Ini bukan awal dari kemunduran atau revolusi diri. Saya sendiri tidak tahu harus menamainya apa. Ini hanya upaya diri saya untuk lebih bisa struggle, serta dapat memaknai dan menjalani hidup dengan sebagaimana mestinya.

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2009 (PIMNAS XXII)

Posted by | Posted in Berita | Posted on 03-09-2009


Pada Senin (20/7) IPB telah mengirim delegasinya ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2009 (PIMNAS XXII) yang diadakan di Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang. Sebanyak 91 orang yang terbagi dalam 17 tim PKM (3 PKM-P, 2 PKM-M, 9 PKM-K, 1 PKM-T, dan 2 PKM-GT) dan 11 tim lomba pendukung (6 tim Lomba Karya Tulis Ilmu Al-quran (LKTIA), 1 Kelompok Lomba Rancangan Software Kreatif, 1 Lomba Makanan Berbahan Lokal, 1 Lomba Karya Kreatif Barang Bekas (LKKBB), dan 2 Lomba poster iklan layanan masyarakat) berkontribusi dalam perjuangan memperoleh piala bergilir Adikarta Kertawidya yang sempat berdomisili di Kampus IPB selama dua tahun (2004-2006). Pada tahun 2008, piala ini dianugerahkan kepada Unibraw atas prestasinya sebagai peraih medali emas terbanyak.
Dibandingkan empat tahun yang lalu jumlah pengaju proposal PKM meningkat signifikan. Empat tahun yang lalu jumlah pengirim proposal hanya 1.400 kelompok, sedangkan untuk tahun ini meningkat menjadi 12.800 kelompok. Tahun ini, dari 12.800 proposal yang masuk hanya 3.400 kelompok yang didukung oleh dikti. Setelah melalui rangkaian implementasi program, monitoring dan evaluasi terpilihlah 60 kelompok atau 330 orang peserta yang lolos melaju ke PIMNAS XXII tahun 2009 ini. IPB tidak lagi menjadi pengirim finalis PKM terbanyak, tahun ini Universitas Gajah Mada (UGM) menduduki posisi pertama dalam hal jumlah finalis.
Pada hari pertama, sejak kontingen IPB (kecuali tim pameran dan finalis LKTIA yang berangkat lebih dulu) tiba di Malang, pemenang LKTIA telah diumumkan dan tidak satu pun dari enam tim LKTIA yang dikirimkan IPB masuk ke dalam peringkat tiga besar. Pengumuman yang disampaikan berikutnya adalah Guntur Rudi Hartono (ARL 44) yang memenangkan lomba pendukung Karya Kreatif Barang Bekas, disusul tim Sendi Ekasetya (Ilkom 42) yang memperoleh peringkat tiga dalam lomba Kompetisi Rancangan Software Kreatif Untuk Pembelajaran Siswa dengan judul “Sejarah Sebagai Kisah Peristiwa, Ilmu dan Seni” Modul Mata Pelajaran Sejarah Kelas X Semester I. Selain itu, setelah melalui rangkaian acara pada PIMNAS XXII ini ada pun hasil yang diperoleh kontingen IPB antara lain:

Jenis Lomba/PKM Tim/Judul PKM Perolehan
PRESENTASI
PKM-M Sugiarto, dkk/Taman Edukatif (Emas)
PKM-P Ary Try P., dkk/Mikroenkapsulasi Rossela (Perak)
PKM-P Suhendri, dkk/Proses Termal Untuk Tempe (Perunggu)
PKM-K Idham Fitriadi, dkk/Serabi Pelangi (Perak)
PKM-K Rudi Setiawan, dkk/Tsukudani (Perak)
PKM-K Viester Dolles, dkk/Pappy Lisna (Perunggu)
POSTER
PKM-GT Leonardus AW., dkk/Pewarna Makanan Alami (Emas)
PKM-GT Aminudin, dkk/Potensi Limfitom (Perunggu)
PKM-P Suhendri, dkk/Proses Termal Untuk Tempe (Emas)
PKM-P Ary Try P., dkk/Mikroenkapsulasi Rossela (Perunggu)
PKM-K Puspita Kurnia H., dkk/U-Soup (Emas)
PKM-K Devi Novi A., dkk/ Creative Shop (Perak)
PKM-K Editya P., dkk/Brown Toffu (Perunggu)

Tahun ini Unibraw berhasil mempertahankan Piala Adikarta Kertawidya. Unibraw kembali menjadi Juara Umum I di PIMNAS XXII 2009 ini. Pada PIMNAS kali ini IPB menduduki peringkat lima setelah menempati posisi enam pada tahun 2008. Berikut ini adalah urutan juara umum pada PIMNAS XXII dengan perolehan medalinya:

Perguruan Tinggi Presentasi Poster
Emas* Perak Perunggu Emas Perak Perunggu
1 UB 3 3 1 2 – -
2 ITB 2 2 3 2 – -
3 ITS 2 – – – – 1
4 UNY 2 – – – – -
5 IPB 1 3 2 3 1 3
6 UGM 1 4 2 2 1 -
7 UNJ 1 1 – – – 1

*asumsi bahwa 1 medali emas pada presentasi setara dengan 5 medali emas pada lomba poster

Orang Gila Masuk Angkot

Posted by | Posted in Story Vs Journey | Posted on 03-08-2009

Jumat (31/7), dalam perjalanan menuju Bogor ada hal lucu sekaligus menegangkan yang saya alami. Saya beranjak dari rumah pukul 11.05 WIB. Dengan menggunakan becak saya menuju pangkalan angkot yang ada di depan komplek perumahan saya. Sesampainya di sana saya langsung menaiki angkot D15 jurusan Pamulang-Lb. Bulus. Saya turun dan menaiki angkot jurusan Ciputat-Parung dari perempatan Gaplek, yaitu perempatan yang menjadi perbatasan Jakarta, Tangerang dan Bogor. Perjalanan cukup lancar hingga saya tiba di Pasar Parung.
Kali ini saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot biru jurusan Parung-Bogor. Angkot ini ngetem cukup lama. Hampir setengah jam waktu yang saya habiskan untuk menunggu sampai angkot ini memulai perjalanan. Saya pasrahkan nasib pada supir angkot —yang saya yakini saat ini usianya belum sampai 16 tahun— selama perjalanan menuju Bogor.
Belum lama supir angkot menancapkan gasnya, tiba-tiba seorang perempuan melambaikan tangannya. Angkot berhenti dan perempuan tersebut naik ke angkot. Namun, tiba-tiba ada seorang pria kumel, berambut gimbal, berkulit hitam, dan agak bau ikut memasuki angkot dari belakangnya. Setiap orang yang ada di dalam angkot spontan menelan ludah. Ya, dia orang gila.
Orang gila itu langsung duduk di pojok belakang angkot yang saya naiki. Saya yang duduk dekat pintu di kursi seberangnya tertunduk dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Terlebih anak SMP yang duduk di sebelah saya, ia langsung memepetkan tubuhnya kepada saya. Ia terlihat begitu takut. Mengingat kejadian yang langka ini saya jadi bingung, saya takut tapi ingin tertawa. Sementara itu, supir angkot berkoar-koar ”KALUAR MANEH!! KALUAR MANEH!!! TONG DIUK SIAAA!!!” kurang lebih artinya ”KELUAR LO!! KELUAR LO!! JANGAN DUDUK!!!!”. Tapi sang orang gila pun tak menggubrisnya.
Perjalanan pun dimulai dengan membawa orang gila di dalam angkot. Mungkin para penumpang merasakan hal yang sama dengan saya. Takut, tapi ingin tertawa karena baru kali ini satu angkot dengan orang yang jelas-jelas memiliki gangguan jiwa. Apalagi saat supir angkot menyetel lagu Puspa-St.12 dengan hentakkan bass yang cukup kencang dari speaker yang tepat berada di sebelah orang gila itu, ia langsung mengangkat tangannya dan berjoged dengan begitu bersemangat.
Para penumpang sudah kehabisan ide untuk membuat orang gila ini keluar dari angkot. Hingga seorang ibu gendut menaiki angkot bersama seorang anak gadisnya. Si anak duduk tepat di depan orang gila dan sang ibu duduk di sebelah orang gila —tanpa menyadari orang di sebelahnya itu adalah orang gila. Saat goyangan angkot semakin menjadi-jadi si ibu tak sengaja menengokkan kepalanya ke kanan. Dilihatnyalah orang gila yang sedang tertawa dengan segala kekumelannya. Reaksi yang cukup tenang dari sang ibu, namun sangat terlihat dia agak jijik dan panik.
Mungkin karena tak tahan dengan desakan dari tubuh si ibu gendut orang gila pun berteriak ”BANG KIRRIII.. BANG KIRIII!!!”. Para penumpang pun langsung bersahutan ”Bang, dia mau keluar tuh!!!”. Angkot langsung berhenti di depan sebuah warung kopi yang ada di sisi jalan Kemang-Bojong Gede. Orang gila pun turun sambil tertawa-tawa. Begitu pun dengan saya dan penumpang lain yang ikut tertawa dan saling bertatapan saat si orang gila turun dari angkot.
Kami begitu bersyukur, karena seluruh penumpang masih dalam keadaan sehat dan utuh. Pengalaman yang luar biasa, hari ini kali pertama saya naik angkot bersama orang gila. Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan saya dari hal-hal yang tidak bisa diduga. Sungguh momen yang tepat bagi seluruh penumpang angkot tersebut dan saya (khususnya), karena mash diberi kesehatan fisik, akal dan jiwa dalam menjalani kehidupan ini.

Susah Cari Angkot di Kota Apel

Posted by | Posted in Story Vs Journey | Posted on 03-08-2009


Sekitar dua minggu yang lalu, saya meliput Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2009 (PIMNAS XXII). Hampir setiap hari saya dan dua peliput lainnya menghabiskan waktu untuk menyaksikan presentasi PKM yang disajikan mahasiswa IPB dalam kompetisi ilmiah itu. Terkadang saya merasa jenuh saat menunggu giliran finalis IPB yang berpresentasi. Bahkan, saya harus berpindah dari fakultas satu ke fakultas lainnya (yang jaraknya cukup jauh) untuk menyaksikan presentasi yang berbeda. Sudah pasti menyita waktu apabila saya harus berjalan kaki. Untung saja salah satu peliput difasilitasi motor (pinjaman) untuk memudahkan mobilisasi kami.
Pada hari ketiga saya mendapat sedikit keleluasaan untuk melakukan aktivitas lainnya. Pada hari ini seluruh finalis telah menyelesaikan presentasi PKMnya. Sepulang meliput kegiatan pada PIMNAS XXII ini saya dan salah satu partner kerja saya, sebut saja Cydra, mampir ke Malang Town Square (Matos) yang tidak jauh dari Universitas Brawijaya. Jaraknya yang berdekatan membuat saya dan Cydra tidak menggunakan kendaraan apa pun. Hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit, kami sudah bisa melihat isi dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Setelah hampir dua jam kami berkeliling melihat pameran gadget yang sedang diadakan di atrium mall itu, kami pun pulang ke tempat kami menginap. Setelah cukup lama menunggu angkot di depan Matos, saya baru menyadari belum ada angkot yang melintas. Sampai 10 menit kemudian baru ada angkot yang melintas. Namun, saat saya melambaikan tangan tidak ada satu pun angkot yang mau berhenti. Saya dan Cydra sempat bingung dengan angkot-angkot itu. Hingga seorang supir taksi meneriaki kami ”Nggak boleh dari situ mbak!!!” sambil menunjuk ke arah di mana kami bisa menaiki angkot. Cukup Jauh. Kami harus berjalan kaki lagi sekitar 200-300 Meter. Sepanjang jalan itu angkot-angkot yang tidak narik berjajar rapi hingga kami dapatkan angkot yang paling ujung. Bersyukur masih ada dua kursi yang masih bisa kami duduki. Angkot yang sudah penuh pun langsung melaju cepat.
Akhirnya kami pun tiba di Jl. Ijen dekat tempat kami meginap dan turun di sana. Kami harus membayar Rp 2.500,- (per orang) untuk perjalanan yang cukup dekat (hanya 5 menit dari tempat kami naik). Sepertinya tarif angkot di kota ini ‘pukul rata’ jauh-dekat Rp 2.500,- dan untuk saya yang hanya membutuhkan jasanya dalam perjalanan yang singkat itu tarif tersebut rasanya cukup mahal.
Berbeda sekali dengan Kota dan Kabupaten Bogor yang angkotnya berjubel, di Kota Malang angkotlah yang ditunggu-tunggu penumpang bukan angkot yang berebut penumpang. Selain karena penduduk Kota Malang yang belum sepadat Kota Bogor, pengaturan kendaraan umum di Kota ini juga terlihat cukup baik. Para supir angkot pun tertib lalu lintas, mereka tidak akan berhenti di tempat-tempat yang ada rambu dilarang berhenti dan di tempat-tempat yang memang telah disepakati bukan sebagai tempat perhentiannya meskipun di sana ada calon penumpang yang akan menaiki angkot mereka.

Kontributor Penggundulan Hutan Teriakan "GO GREEN!!!"

Posted by | Posted in OPINI | Posted on 25-06-2009


Hari ini (26/6) belum genap satu minggu sejak saya melihat kios-kios yang menjual jasa photocopy di sepanjang Jl. Babakan Raya, Dramaga, Bogor, dikerubungi mahasiswa IPB. Saat itu mahasiswa akan menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) Genap. Seperti momen-momen ujian sebelumnya mahasiswa menyiapkan handout yang diberikan dosen sebagai bahan ujian.
Lembar demi lembar kertas keluar dari mesin photocopy, slide demi slide, modul demi modul tertumpuk dan siap dibawa oleh mahasiswa layaknya amunisi senjata untuk persiapan berperang melawan soa-soal ujian. Hal tersebut sederhana dan sudah terlihat biasa. Namun, pernahkah anda membayangkan berapa banyak kertas yang terpakai untuk membuat handout tersebut? Berapa banyakkah pohon yang ditebang untuk memenuhi demand kertas yang menjadi kebutuhan akademik itu?. Mari kita coba membuat sebuah hipotesis tentang penggunaan kertas pasca UAS mahasiswa IPB.
Asumsi:
1. Jumlah mahasiswa yang mengikuti UAS adalah 12.000 orang
2. Rata-rata jumlah mata kuliah yang diambil mahasiswa adalah 7
3. Rata-rata jumlah kertas per handout adalah 30 lembar

Maka, secara matematis tinggal dikalikan saja,

Jumlah Kertas Dibutuhkan = 12.000 x 7 x 30 = 2.520.000 lembar

Atau setara dengan:

2.520.000/500 = 5040 rim

Sebagai informasi, untuk memproduksi satu rim kertas diperlukan satu batang pohon berusia lima tahun. Jadi, dari hipoteis tersebut dapat dilihat untuk memenuhi demand kertas pasca ujian mahasiswa IPB dibutuhkan setidaknya 5040 batang pohon yang harus ditebang. Selain itu, dalam kegiatan produksi kertas ini tidak hanya hutan yang digunduli, namun terdapat hasil sampingan yang disebut limbah. Limbah yang dihasilkan dapat berupa padatan, cairan maupun gas yang secara kuantitatif besar dan mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Terlebih saat limbah dibuang tanpa pengolahan atau filtrasi terlebih dahulu. Hal tersebut akan meningkatkan eksternalitas negatif pada masyarakat yang terkena dampaknya.
Nah, berdasarkan perhitungan matematis dasar tersebut kita dapat mengetahui ternyata sebagai mahasiswa –konon katanya calon intelektual masa depan dan bagian dari masyarakat peduli lingkungan– yang sering meneriakan slogan ‘GO GREEN!!’ kita juga memberikan kontribusi terhadap penggundulan hutan. Tidak ada kata terlambat untuk suatu perbaikan. Jadi, hematlah kertas mulai sekarang!!!

Pendidikan Konservasi Sebagai Langkah Awal Menyelamatkan Bumi

Posted by | Posted in OPINI | Posted on 25-06-2009


Sejak awal tahun 2000-an kita sering melihat banyak konferensi dan aksi lingkungan yang diselenggarakan di berbagai belahan dunia. Konferensi lingkungan ini diadakan untuk berbagai kepentingan akan sumberdaya dan lingkungan nasional maupun internasional. Begitu pun dengan aksi peduli lingkungan yang marak dilakukan belakangan ini. Dalam aksi tersebut, hal yang pada umumnya dipublikasikan adalah permasalahan lingkungan yang memang sdah marak diperbincangkan masyarakat maupun media.
Salah satu bentuk kecintaan terhadap lingkungan hidup dan bumi seperti yang disebutkan di atas pada dasarnya memang dibutuhkan untuk meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat tentang permasalahan lingkungan global yang sedang dan akan mereka hadapi. Namun, alangkah lebih baik apabila terdapat suatu kegiatan yang lebih berkesinambungan guna menciptakan suatu solusi bagi bumi kita yang sudah semakin tua ini. Sehingga, perjuangan yang sebatas publikasi dan bersifat persuasif itu tidak menjadi sia-sia.
Perjuangan untuk menyelamatkan bumi yang sebenarnya adalah sebuah proses. Proses penyelamatan ini dapat berlangsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang, semua bergantung pada skala perubahan yang diharapkan. Proses ini sangat bergantung oleh berbagai faktor, antara lain:

Eksternal
1.Sosial : pola interaksi yang dilakukan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal.
2.Ekonomi : tingkat pendapatan yang menunjukkan willingness to pay seseorang terhadap kesejahteraan lingkungan.
3.Budaya : kebiasaan yang telah menjadi pola hidup sehari-hari
4.Pendidikan : kuantitas dan kualitas ilmu pengetahuan tentang lingkungan yang telah diperoleh.

Internal
1.Idealisme dan mind set yang terbentuk sejak usia dini
2.Seberapa besar keinginan untuk berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan keseimbangan lingkungan

Faktor-faktor tersebutlah yang sering menjadi kendala bagi seorang atau sekelompok aktivis lingkungan untuk mengajak masyarakat agar mau peduli dan melihat lebih dekat permasalahan lingkungan yang mereka hadapi, serta membaurkan pemikiran untuk mencari segudang solusi dan tidak hanya bergantung oleh gerak pemerintah saja. Salah satu jembatan untuk mengawali proses dan menjadi solusi bagi kendala tersebut adalah Pendidikan Konservasi.
Dalam Pendidikan Konservasi kita tidak hanya mempelajari bagaimana cara menjaga dan memanfaatkan apa yang ada di alam secara sustainable, namun bagaimana peserta belajar dapat memahami kendala (sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dll) yang akan dihadapi ketika terjun langsung ke dalam masyarakat saat hendak mentransfer Pendidikan Konservasi yang lebih aplikatif. Pada Pendidikan Konservasi ini peserta belajar mempelajari pendekatan kepada masyarakat secara formal dan informal untuk mendukung terbentuknya jalinan komunikasi yang lebih efektif sesuai dengan target atau sasaran penyuluhan.
Pada perjalanannya kegiatan ini sering kali menjadi pengalaman baru bagi peserta belajar, misalnya saat mengalami sebuah penolakkan dari sasaran untuk menerima penyuluhan. Selain itu, peserta belajar harus mau ditempatkan di mana saja dan berhadapan dengan lapisan masyarakat yang berbeda-beda, misalnya siswa-siswi SD hingga SMA, ibu-ibu PKK, pedagang kaki lima, pedagang asongan, anak jalanan, petani, supir angkot, dan sebagainya. Proses transfer ilmu saat penyuluhan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui pemutaran film tentang isu lingkungan yang sedang hangat, praktik pemanfaatan limbah rumah tangga maupun produksi, seni lukis dan gambar bagi balita dan anak usia sekolah dasar, dan lain sebagainya.
Pada umumnya masyarakat akan peduli saat penyuluh memberikan pemahaman tentang betapa bergantungnya manusia dengan alam ini, dan mengapa tidak memanfaatkan limbah yang ada di alam untuk sesuatu yang lebih profitable dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan pemahaman seperti itu penyuluh dapat mengubah mind set masyarakat yang sebelumnya purely profit oriented menjadi sustainable profit based on sustainable resources.

Krisis Air Bersih Lingkar Kampus IPB Dramaga

Posted by | Posted in Berita | Posted on 14-06-2009


Air merupakan salah satu sumberdaya yang menjadi kebutuhan pokok hidup manusia. Setiap orang membutuhkan air untuk dikonsumsi maupun untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari, misalnya minum, memasak, mandi, hingga skala penggunaan yang lebih besar seperti pertanian.
Kecamatan Dramaga merupakan wilayah barat Kota Bogor yang ketersediaan air bersihnya belum terpenuhi secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya alokasi air oleh irigasi (pertanian).
Sebagai kawasan pemukiman mahasiswa, Kecamatan Dramaga memiliki permintaan yang cukup tinggi untuk air bersih. Namun, penduduk yang tinggal pada kawasan ini sebagian besar sudah tidak dapat mengandalkan sumber air tanah sebagai pemasok air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal ini terjadi karena terdapat penurunan kualitas air di sekitar kampus IPB karena tercemar oleh septic tank yang jaraknya sangat dekat dengan sumber air. Padahal jarak minimum yang diperbolehkan antara septic tank dan sumber air seharusnya 20 Meter. Sedangkan, sebagian besar pemukiman mahasiswa di lingkar kampus IPB sangat dekat dan berhimpitan, sehingga peluang tercemarnya air dan mewabahnya penyakit (gatal-galat, hepatitis, typus, dll) semakin besar.
Saat terjadi penurunan kualitas air tanah di lingkar kampus IPB, alternatif sumber air bersih berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Jika dalam pengadaan air bersih ini penduduk masih merasakan kualitas air yang kurang memuaskan, maka solusi yang sudah seharusnya dilakukan adalah melaporkannya langsung keluhan yang dirasakan kepada PDAM setempat. ‘Sejauh ini Pemda dan PDAM Kabupaten Bogor telah memiliki program untuk pengadaan air bersih, namun masih menunggu kontribusi dari IPB sebagai institusi yang banyak terlibat dalam penggunaan maupun pengadaan air bersih.’ Jelas Dr. Ir. Yusman Syaukat, M. Ec.

BioS: Biopore on Situ Gede

Posted by | Posted in Berita | Posted on 14-06-2009


Komponen penyusun ekosistem terdiri dari unsur biotik dan abiotik. Kedua unsur tersebut ada yang terlihat maupun yang tidak kasat mata. Terdapat organisme pengurai yang memiliki peran tidak kalah penting dengan komponen penyusun lainnya sebagai salah satu unsur biotik. Namun, pada umumnya manusia tidak berfokus pada hal tersebut. Masyarakat pada umumnya lebih memperhatikan apa yang ada dipermukaan hingga isu lingkungan yang bersifat makro.
Pada hari Minggu, 07 Juni 2009 diadakan suatu rangkaian acara bertajuk “Biopore On Situ Gede” (BioS) yang merupakan hasil jalin kerjasama REESA dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HMIT). Acara yang bertujuan memberikan pengetahuan seputar manfaat lubang resapan dan penghematan air ini dilaksanakan di tengah masyarakat RW 07 Desa Situ Gede. Masyarakat diberikan penyuluhan tentang biopori dan krisis air bersih yang melanda beberapa daerah di Indonesia.
Usai mendapat penyuluhan, masyarakat langsung membuat lubang-lubang biopori di pekarangan rumah dan beberapa tempat yang telah disepakati. Pembuatan lubang dilakukan oleh kaum pria, sedangkan kaum wanita hanya memberikan sampah-sampah organik yang nantinya dimasukkan ke dalam lubang tersebut.
Dengan diadakannya acara ini diharapkan timbul suatu cara pandang baru bagi masyarakat tentang pentingnya penghematan air dan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan mampu mengaplikasikan upaya-upaya konservasi air dan tanah.